Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam – Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bersama kelompok KKN 35 telah melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah anorganik dengan merancang sebuah alat pembakaran sampah yang menghasilkan residu minimal, dikenal sebagai incinerator. Alat ini diharapkan dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Purwawinangun. Sabtu, (10/08/2024).
Desa Purwawinangun menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah, terutama karena lokasinya yang berdekatan dengan pasar tradisional dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang menerima sampah tidak hanya dari penduduk lokal tetapi juga dari desa-desa sekitar. Akibatnya, tumpukan sampah di TPA tersebut semakin meningkat, menimbulkan masalah lingkungan yang signifikan dan mengganggu kenyamanan warga, terutama mereka yang tinggal di dekat TPA.
Proses pembuatan incinerator berlangsung selama satu minggu, mulai dari tahap perencanaan hingga penyelesaian alat sesuai dengan desain yang telah disusun. Setelah alat selesai dirakit, KKN 35 melakukan uji coba untuk memastikan alat berfungsi dengan baik. Uji coba ini menjadi langkah krusial sebelum alat tersebut digunakan secara penuh untuk mengelola sampah anorganik di desa tersebut.
“Pembuatan alat ini terinspirasi dari kompor oli bekas yang sudah banyak dipublikasikan, salah satunya adalah rumah belajar wangsakerta yang menjadi awal inspirasi ini. Sehingga gagasan tersebut ditiru dan dimodifikasi sedemikian rupa untuk melakukan proses pembakaran sampah,” ujar Farel, Sabtu (10/8/2004).
Alat penghangus sampah sederhana ini dibuat menggunakan tong metal bekas minyak yang dimodifikasi sedemikian rupa.Alat terdiri dari susunan 2 tong. Tong 1 (bawah) sebagai tungku dan reaktor dan tong 2 (atas) sebagai tabung pembakar sampah.Dalam tong 1 (bawah) layer pertama adalah tungku minyak/oli bekas sebagai bahan bakar yang befungsi sebagai sumber api dan pemanas reaktor uap.Lalu layer ke 2 adalah panci air (reaktor uap) yang ketika air didalamnya memanas dan menguap. Maka uap yg bertekanan akan direlease melalui lubang yg disebut spuyer tepat diatas sumber api sehingga mendorong api lebih besar hingga menyembur dari ruang bakar. Seperti yang kita tahu, api tercipta dari panas, bahan mudah terbakar dan juga udara yg mengandung oksigen. Dan air adalah senyawa kimia dengan unsur H²O (Hidrogen dan Oksigen) sehingga uap air adalah second fuel untuk menyuplai kobaran api.
Setelah uji coba berhasil, Kelompok KKN 35 segera mengadakan sosialisasi kepada para Ketua RW, RT, dan Kepala Dusun untuk memperkenalkan alat ini dan mendiskusikan cara terbaik untuk mengimplementasikannya di masyarakat. Langkah ini diambil agar hasil karya mereka dapat dimanfaatkan secara maksimal dan memberikan dampak positif jangka panjang bagi lingkungan desa.
“Inovasi ini diharapkan dapat membantu mengurangi dampak negatif dari penumpukan sampah plastik dan bahan anorganik lainnya yang sulit terurai. Dengan hadirnya incinerator ini, masyarakat Desa Purwawinangun diharapkan dapat lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan, serta mengurangi volume sampah yang harus ditangani oleh TPA setempat”, ucap Farel sebagai seseorang dibalik semua ide tersebut (10/8/2004).